“maaf…”ucap seorang cewek dengan terbata-bata
“maaf??? Lu jalan pake mata ngak sih???”bentak seorang cowok yang ditabrak cewek itu
“sudahlah vin, dia kan udah minta maaf…”ucap temannya menenangkannya lalu mengambil alih, “lain kali hati-hati kalau jalan…”
Cewek itu langsung ngibrit sementara cowok itu malah ngamuk-ngamuk sama temennya itu.
“kok lu biarin dia pergi sih kka??? Harusnya cewek itu diberi pelajaran…”ucap cowok itu yang ternyata bernama Alvin
“udahlah,
lagipula dia bilang ngak sengaja kan??? Ngak usah memperpanjang urusan
yang ngak penting deh…”ucap temannya dengan santai. Nama cowok ini
adalah Cakka. Sementara kedua temannya yang lain tidak mau ambil pusing
dengan keributan kecil tadi. Siapa lagi kalo bukan si pendiam Gabriel
dan kembarannya yang super ngak pedulian si Rio.
“dasar lu ini. Terlalu baik sama cewek…”ucap Alvin dan berjalan menjauh dari mereka bertiga
***
“hey Shilla, kenapa wajahmu pucat begitu???”tanyaku bingung saat melihat Shilla masuk kelas dengan wajah pucat dan ketakutan
“fy,
gue nabrak F4 tadi…”ucapnya lirih, yang membuatku malas untuk
mendengarkan ceritanya. Palingan certain tentang kegantengan keempat
cowok sok itu.
“terus???”tanyaku dengan malas-malasan
“gue…gue di bentak sama Alvin karena nabrak dia. Untung Cakka belain gue…”ucapnya dengan mata berbinar-binar. Aku maklum saja, kan dia memang suka sama Cakka dari dulu. Mau diapain lagi, mendingan dalam kasus ini diam saja
“oh…”jawabku
datar, memang malas mendengar F4 atau semacamnya yang berkaitan dengan
mereka. Mungkin aku satu-satunya cewek yang anti F4 di sekolahan ini,
“kok reaksimu gitu aja sih??? Kasih komen kek…”ucap Shilla sambil cemberut
“ya, kali aja Cakka suka sama lu…”ucapku asal, namun dianggap serius sama Shilla
“benarkah??? Kalau gitu ngak sia-sia gue suka sama dia…”ucapnya senang, sementara aku hanya menghela nafas
“Shilla, kapan lu sadar sih kalau Cakka itu playboy cap kelinci??? Jadi bingung sendiri aku untuk menjelaskannya padamu…”gumanku dalam hati
***
“kali ini apa lagi???”tanyaku pada Shilla saat diajaknya (secara paksa) ke toko kue
“bantuin
gue buat cokelat. Seminggu lagi valentine dan gue mau kasih cokelat
yang terenak buak Cakka…”ucapnya dengan semangat, sementara aku malas
mendengarkan rencana Shilla. Apalagi untuk F4, enggak deh.
“sudah semua nih bahannya…”ucapku menunjuk semua bahan-bahan yang diperlukan untuk membuat cokelat
“hari ini lu nginep di rumahku ya. Bantuin gue buat cokelat ya…”pinta Shilla dengan tatapan memelas, yang membuatku menyerah
“iya deh…”ucapku terpaksa
“makasih Ify. Gue tahu lu pasti mau bantuin gue…”ucap Shilla sambil memelukku
“aku
sangat berterimakasih kalau kau melepaskan pelukanmu sekarang. Aku
sesak nafas nih…”ucapku dan akhirnya Shilla melepaskan pelukannya juga
***
“kamu ngak buat cokelat???”tanya Shilla saat aku membantunya membuat cokelat buat Cakka dan seluruh anggota F4
“buat siapa???”tanyaku balik
“kali aja buat salah satu anggota F4…”gurau Shilla yang membuatku menghentikan kegiatanku membuat adonan kue
“sorry,
gue ngak terlalu senang sama anggota F4…”ucapku dan menguleni adonan
kueku dengan kasar, seakan-akan adonan itu adalah salah seorang anggota
F4 yang membuatku sangat kesal. Siapa lagi kalau bukan si Rio, cowok
yang super duper tidak peduli dengan lingkungannya. Sampai-sampai aku
harus terkena hukuman waktu satu kelompok dengannya karena dia tidak mau
mengerjakan tugas kelompok samasekali. Mengingat itu aku jadi sangat
dendam dengannya. Awas saja dia kalau satu kelompok lagi, kupastikan dia
mengerjakan tugasnya dengan benar.
“emangnya kenapa sih???”tanya Shilla heran
“ada deh…”ucapku sok rahasia
“Ify gitu ya…”
“sorry, gue ngak terlalu mau mengingat ataupun mengenal F4 dalam versi apapun…”
***
Valentine day’s
“kenapa lagi???”tanyaku saat Shilla tiba di depanku dengan wajah habis menangis
“i..itu fy, cok..cokelat yang kita buat kemaren ru..rusak…”ucapnya dengan terisak
“lo, gimana bisa???”tanyaku heran
“ha..habis di in..injak Al…”ucapnya tak selesai karena orang yang dimaksud muncul di belakangku
“Al??? siapa itu???”tanyaku bingung, sementara wajah Shilla terlihat pucat dan menggelengkan kepalanya
Saat aku melihat kebelakangku, aku tahu apa yang membuat Shilla pucat. Oh my god, kenapa leader F4 sekarang ada di sini, tepatnya di belakangku??? Kayaknya hidupku akan sial sebentar lagi.
“eh
lu, ngadu sama temen lu kalau cokelat yang mau lu kasih ke Cakka gue
injek??? Cokelat gitu aja lu ributin, apalagi yang lain…”ucapnya yang
membuatku kesal
“ya..ya..ya
Mr. F4, menurut anda itu barang yang sangat murah atau di otak anda
murahan. Tapi dia membuatnya dengan perjuangan yang keras, semalaman
begadang hanya untuk membuat cokelat itu…”ucapku sambil menunjuk Shilla.
Cowok itu hanya melongo, sementara tanpa jeda aku langsung menyambung,
“kalau anda pikir saya suka mendengarnya nagis gini, anda salah besar!
Anda tahu, semalaman saya harus bergadang hanya untuk menemaninya
membuat cokelat yang akhirnya anda injak-injak sama anda!”
Tatapan
cowok itu sangat marah, dan tangannya bersiap untuk memukulku (lebih
tepatnya menamparku). Tiba-tiba saja tangannya di tahan oleh orang yang
sangat membuatku kesal sehingga aku tidak menyukai F4. Sementara Shilla
hanya bisa duduk lemas saat melihatku bertengkar (berdebat maksudku)
dengan Alvin, leader F4 yang hampir menamparku dan di selamatkan oleh
Rio.
“vin,
lu makin hari makin keterlaluan! Selama ini gue diam bukan berarti gue
ngak tahu apa yang lu perbuat. Hari ini gue sangat-sangat muak melihat
semua kelakuan kekanak-kanakan lu. Cepat lu minta maaf sama kedua cewek
ini!”teriak Rio yang membuatku merinding (bukan dalam arti yang positif)
“ngapain??? Gue ngak buat salah kok…”ucap Alvin yang membuatku geleng-geleng kepala.
“ngak buat salah darimana??? Anak ini ngarti dosa ngak sih???”tanyaku dalam hati
“cepat sebelum gue melakukan hal yang paling lu benci…”ucap Rio yang membuat Alvin mau ngak mau mengucapkan minta maaf
“maaf…”ucapnya dengan tidak ikhlas
“ngak ikhlas tuh…”celetukku yang langsung mendapatkan pandangan mematikan dari Alvin
“yang bener…”ucap Rio yang membuat Alvin menghela nafas (dan sengaja di perdengarkan lagi)
“gue
minta maaf. Gue ngaku salah dan ngak akan melakukannya lagi…”ucap Alvin
yang menurutku seperti orang yang membuat perjanjian dengan guru BK
saja
Baru aku mau mengucapkan sesuatu, aku langsung mendapatkan tatapan mematikan dari Alvin dan langsung pergi dari tempat itu. “padahal aku cuma mau bilang kalau permintaan maafnya seperti membuat perjanjian sama guru BK…”
“lu ngak apa-apa???”tanya Rio
“seperti yang lu lihat, ngak kurang atau lebih satupun dari tubuhku…”ucapku datar
“maafin Alvin. Dia emang suka seenaknya sama orang…”ucapnya yang menurutku tidak seperti biasanya
“emang suka seenaknya…”celetukku yang membuatnya tersenyum
“sejak kapan dia suka senyum??? Bukannya dia dingin banget ya sama orang, apalagi sama cewek???”tanyaku dalam hati
Shilla yang melihat percakapan dua manusia itu hanya menatap bingung. “lo kok Rio mau ngomong sama cewek??? Bukannya biasanya dikacangin???”
***
“hahaha, trus???”tanya Cakka sambil tertawa yang membuat Alvin kesal
“kka, diam lu. Gara-gara cewek yang mau kasih cokelat ke lu, gue jadi dipermalukan sama Rio…”ucapnya dengan kesal
“hahaha, lu juga yang salah. Sudah salah, masih marahin orang lain bahwa dia yang salah…”tawa Cakka yang berhadiah lemparan bantal dari Alvin
“sekali
lagi lu tertawa, gue hajar lu…”ancam Alvin, lalu mengalihkan
pandangannya ke Gabriel. “iel, sejak kapan saudara lu ngomong sama
cewek??? Bukannya dia anti banget ya sama cewek???”
“gue sebagai saudara kembarnya hanya bisa memberikan jawaban, ’ngak tahu’…”ucapnya yang membuat Alvin kesal
“lu
saudaranya ato bukan sih???”teriak Alvin dan langsung membuka buku yang
ada di hadapannya dengan haerapan agar rasa kesalnya hilang
“vin,vin. Kapan sih lu tobat??? Sejak lu putus sama Acha, kerjaannya marah ngak jelas…”ucap Cakka dalam hati
***
“heh???
Cokelatku kau minta??? Bukannya sudah jelas ya kalau lu ngak bisa
ngasih dia cokelat???”ucapku dengan kesal saat Shilla memohon agar
cokelat yang akan kuberikan kepada Agni, sepupuku dimintanya. Dan jangan
bertanya lagi untuk siapa cokelat itu. (jelas 100% untuk Cakka)
Dan
akhirnya dengan keterpaksaan aku memberikannya juga, walaupun jatah
cokelatnya Shilla yang kupotong namun baginya tak masalah. Susah sih
orang yang lagi jatuh cinta
“mau apa lagi lu kemari???”ucap Alvin saat kami berdua masuk ke ruangan khusus F4
“a..aku hanya mau mengantarkan ini buat Cakka…”ucapnya terbata-bata
“hei, ada apa???”tanya Cakka yang baru masuk ke ruangan itu
“ada yang mau ngaterin lu cokelat tuh…”celetuk Alvin yang membuat Shilla blushing
“oh…”ucap Cakka datar, sementara Shilla memberikan cokelat yang kubuat kepada Cakka
“katanya cokelat yang lu bikin cuma satu. Tapi nyatanya lu ngasih juga ke Cakka yang lebih bagus…”sindir Alvin
“itu cokelat bikinan gue. Gue aja ngak rela ngasihnya…”ucapku membalas sindirannya Alvin
“lu ngapain disini???”ucap seorang cowok dan menepuk pundakku
Aku menoleh melihatnya dan berkata “hanya menemani teman…”
“oh…”ucapnya datar
“yo, lu habis darimana aja??? Iel sibuk nyariin lu tuh…”ucap Alvin
“tempat
biasa…”ucapnya yang membuatku mau tidak mau membuatku tahu dimana
tempat yang dimaksudnya. Dimana lagi kalau bukan perpustakaan.
“lu mau ngabisin bacaan di perpus apa, kok kerjaan lu tiap hari disana aja???”tanya Alvin dengan nada menyindir
“lebih baik disana daripada melihat kelakuanmu yang seperti anak-anak…”ucapnya yang membuatku menahan tawa
“apa yang lucu, hah???”teriak Alvin kepadaku yang membuatku mingkem sementara
“Alvin…”ucap Rio dengan nada tinggi
“ya..ya,,ya.. terserah…”ucapnya kesal, sementara aku sibuk mencari sesuatu di tas
“ada apa???”tanya Rio heran
“mencari sesuatu. Ah, ketemu…”ucapku senang dan menyerahkan sebuah bungkusan yang berwarna hijau
Rio menerimanya dengan heran, karena setahunya kalau valentine, cewek memberikan bingkisan berwarna pink dan bukannya hijau.
“aku
tidak suka warna pink…”ucapku sambil tersenyum, lalu menyeret Shilla
dengan paksa. “gue pergi dulu. Lain kali gue ngak akan ganggu kalian
lagi, tapi ngak tau kalau temenku ini…”ucapku dan langsung pergi dari
tempat itu.
0 komentar:
Posting Komentar