tara - sinyo nepenthes
Seringkali kami menemukan pembahasan atau perbincangan tentang dunia lesbian disangkut-sangkutkan dengan liberalisme. Biasanya, pemantiknya adalah sikap-sikap yang kontra dengan dunia lesbian, baik di dunia maya atau dunia nyata--contoh kasus paling ekstrim, bisa dikatakan penyerangan terhadap launching buku Irshad Manji di LKIS tempo hari. Secara kemanusiaan, perbuatan yang dilakukan ormas yang semata-mata anarkis dalam tindakan tersebut, memang sama sekali tidak benar. Tapi jika lantas ada yang mengaitkan contoh kasus seperti tersebut dengan hak liberal lesbian, kami rasa hal tersebut adalah tindakan yang terlalu dini. Mengingat paham liberalisme yang masuk ke Indonesia bias dalam aplikasinya; kebanyakan orang memahaminya sebagai semata-mata kebebasan. Tanpa nilai-nilai yang mesti dipegang atau tanpa tanggung jawab. Aplikasi semacam itu, seyogyanya tidak akan pernah mengantar sebuah negeri pada perubahan tetapi kekacauan. Selain itu pada dasarnya, ada kemungkinan besar bahwa paham liberalisme tidak cocok untuk diterapkan di Indonesia karena pada dasarnya, kultur yang mengakar di Indonesia adalah kultur komunal--sebuah perjuangan bersama, sementara liberalisme lebih menekankan pada pemenuhan hak-hak individu--itupun dengan disertai tanggung jawab. Lantas ketika ada yang bengak-bengok tentang liberalisme bagi lesbian, kami bertanya-tanya, apa sebenar-benarnya pencapaian tertinggi yang diharapkan dunia lesbian, terkait dengan liberalisme--atau kebebasan (pilihan kata untuk tulisan ini) itu?
Jika kebebasan yang dimaksud adalah kebebasan dalam perolehan pendidikan, kami rasa tidak ada masalah dengan hal tersebut. Begitu juga dengan pekerjaan, kami rasa menjadi lesbian dan bekerja saat ini bukan lagi masalah besar; tergantung sejauh mana lesbian sanggup menjelajah wilayah kreatif dan mengolah kemampuan komunikasinya. Kemudian ruang ekspresi, juga senyatanya telah terbuka luas sampai tidak terkendali dengan adanya internet. Hingga saat ini adakah blog lesbian, situs lesbian yang di ban Pemerintah?
Yang lebih riil bahkan telah dilakukan dengan adanya penerbitan tulisan-tulisan bertema lesbian. Mulai dari surat kabar sampai penerbitan novel-novel oleh para penerbit. Tak kurang puluhan cerpen bertema lesbian dan bahkan ada satu situs lesbian online mendaur ulang cerpen-cerpen tersebut menjadi Kumpulan Cerpen. Belakangan kita dimanjakan dengan beberapa film bertema LGBT, sebut saja, Dilema, Sanubari Jakarta, Lovely Man, Madame X, Arisan, dll. Bahkan kebebasan ber-public affection pun saat ini telah banyak dilakukan, meski diiringi dengan pandangan banyak mata... Berikut dengan adanya Q!Festival yang dilaksanakan setiap satu tahun sekali meski untuk kalangan terbatas, lihatlah satu contoh acara launching buku lesbian, siapa yang duduk di panggung? Kaum Hetero, bukan? Mana lesbiannya? Kalau ga jadi panitya ya jadi penonton. “Hei penontooon…?” Lesbian tidak benar-benar memanfaatkan ruang yang memang khusus ditujukan untuk lesbian.Ini menunjukkan bahwasanya lesbian sendiri belum siap baik secara fisik maupun mental. Peluang ini akhirnya disambar oleh mereka-mereka yang berorientasi pasar. Tetap lesbian tidak akan pernah tampil. Malah, ketika Gerakan Rakyat Yogyakarta Antikekerasan (Gerayak) menyerukan penolakan organisasi yang bertindak dengan kekerasan berkedok agama yang melakukan penyerangan ke Yayasan Lembaga Kajian Islam dan Sosial, yang menyebabkan tujuh peserta diskusi "Allah, Liberty, and Love", mengalami luka parah, adakah bendera lesbian disana? Kalau pun ada kami yakin dan diakui beberapa lesbian, mereka mendompleng bendera Hetero. Itu di dunia nyata. Di dunia maya ada lesbian yang beraninya berteriak-teriak di twitter bahwa, “Indonesia, Negara Intoleran”, Buku lawan Buku dll. Padahal, sebagian lesbian-lesbian yang berteriak ini sudah menikmati royalty atas beberapa kumcer dan novel bertema lesbian. Ironis bukan?
Kemudian kami membayangkan, jika pencapaian kebebasan tertinggi yang diharapkan sampai pada legalitas pernikahan--bukankah ini sesuatu yang utopis? Sama halnya dengan mengharapkan Indonesia bebas korupsi. Karena sejauh ini, perjuangan LGBT di Indonesia masihlah jauh dari memadai untuk menyentuh ranah politik yang memegang kuasa atas legal dan ilegal, serta tidak jarang, benar dan salah.
Meski sesungguhnya, ketiga hal yang diagung-agungkan tersebut juga tidak sepenuhnya terpahami dengan baik. Karena memang, kalau hal-hal tersebut dipahami dengan baik, maka kemungkinan mereka yang bekerja untuk pemerintah bisa jadi pengangguran. Selain itu, sudah jadi rahasia umum, kalau tradisi itu selalu benar dan menjadi kritis di negara ini bisa berarti penjara atau setidaknya, jadi buronan politik. Jangan sampai ke-lesbian-an kita dimanfaatkan demi kepentingan segelintir lesbian atau komunitas lesbian, kita menjadi martil.
Maka, daripada memaksakan diri untuk meraih hak pernikahan, memanfaatkan waktu dan tenaga yang ada untuk membangun kekuatan adalah pilihan yang lebih bijaksana. Toh, mengkritik pemerintah atau menghujat ormas-ormas anarkis, tidak ada bedanya dengan bicara pada kambing congek. Lalu apa yang dapat dilakukan lesbian dengan kebebasan sebagai WNI yang didapatnya sesuai undang-undang?
Pergunakanlah kesempatan-kesempatan itu sebaik mungkin, yang salah satunya kesempatan untuk mendapatkan pendidikan. Ambillah kesempatan untuk bersekolah setinggi mungkin. Jika memang perjuangan dunia LGBT sudah menjadi misi dalam hidup, manfaatkanlah pendidikan tersebut untuk mempelajari benar perkara LGBT beserta musuh-musuhnya. Karena jika LGBT tidak melek terhadap apa yang mereka sedang dan akan hadapi, maka perjuangannya pun tidak akan pernah terarah.
Menghujat tidak akan pernah menjadi solusi tepat sasaran. Membangun kekuatan yang solid akan lebih berguna. Karena sepertinya, dunia LGBT di Indonesia perlu menilik ulang kekuatan fondasinya. Untuk itu, sikap-sikap sentimentil dan romantik perlu mulai dikurangi. Menjadi minoritas tidak akan pernah menjadi mudah, tapi berjuang tidak akan pernah menjadi sebuah kemustahilan.
Melalui tulisan ini, kami mengajak sista-sista lesbian untuk melihat kebebasan dari sudut pandang lain. Ketika liberalisme terlalu ideologis untuk diperbincangkan sementara zaman ini menuntut hal-hal yang lebih praksis. Jadilah lawan yang cantik bagi mereka yang mengibarkan bendera perang.
Seringkali kami menemukan pembahasan atau perbincangan tentang dunia lesbian disangkut-sangkutkan dengan liberalisme. Biasanya, pemantiknya adalah sikap-sikap yang kontra dengan dunia lesbian, baik di dunia maya atau dunia nyata--contoh kasus paling ekstrim, bisa dikatakan penyerangan terhadap launching buku Irshad Manji di LKIS tempo hari. Secara kemanusiaan, perbuatan yang dilakukan ormas yang semata-mata anarkis dalam tindakan tersebut, memang sama sekali tidak benar. Tapi jika lantas ada yang mengaitkan contoh kasus seperti tersebut dengan hak liberal lesbian, kami rasa hal tersebut adalah tindakan yang terlalu dini. Mengingat paham liberalisme yang masuk ke Indonesia bias dalam aplikasinya; kebanyakan orang memahaminya sebagai semata-mata kebebasan. Tanpa nilai-nilai yang mesti dipegang atau tanpa tanggung jawab. Aplikasi semacam itu, seyogyanya tidak akan pernah mengantar sebuah negeri pada perubahan tetapi kekacauan. Selain itu pada dasarnya, ada kemungkinan besar bahwa paham liberalisme tidak cocok untuk diterapkan di Indonesia karena pada dasarnya, kultur yang mengakar di Indonesia adalah kultur komunal--sebuah perjuangan bersama, sementara liberalisme lebih menekankan pada pemenuhan hak-hak individu--itupun dengan disertai tanggung jawab. Lantas ketika ada yang bengak-bengok tentang liberalisme bagi lesbian, kami bertanya-tanya, apa sebenar-benarnya pencapaian tertinggi yang diharapkan dunia lesbian, terkait dengan liberalisme--atau kebebasan (pilihan kata untuk tulisan ini) itu?
Jika kebebasan yang dimaksud adalah kebebasan dalam perolehan pendidikan, kami rasa tidak ada masalah dengan hal tersebut. Begitu juga dengan pekerjaan, kami rasa menjadi lesbian dan bekerja saat ini bukan lagi masalah besar; tergantung sejauh mana lesbian sanggup menjelajah wilayah kreatif dan mengolah kemampuan komunikasinya. Kemudian ruang ekspresi, juga senyatanya telah terbuka luas sampai tidak terkendali dengan adanya internet. Hingga saat ini adakah blog lesbian, situs lesbian yang di ban Pemerintah?
Yang lebih riil bahkan telah dilakukan dengan adanya penerbitan tulisan-tulisan bertema lesbian. Mulai dari surat kabar sampai penerbitan novel-novel oleh para penerbit. Tak kurang puluhan cerpen bertema lesbian dan bahkan ada satu situs lesbian online mendaur ulang cerpen-cerpen tersebut menjadi Kumpulan Cerpen. Belakangan kita dimanjakan dengan beberapa film bertema LGBT, sebut saja, Dilema, Sanubari Jakarta, Lovely Man, Madame X, Arisan, dll. Bahkan kebebasan ber-public affection pun saat ini telah banyak dilakukan, meski diiringi dengan pandangan banyak mata... Berikut dengan adanya Q!Festival yang dilaksanakan setiap satu tahun sekali meski untuk kalangan terbatas, lihatlah satu contoh acara launching buku lesbian, siapa yang duduk di panggung? Kaum Hetero, bukan? Mana lesbiannya? Kalau ga jadi panitya ya jadi penonton. “Hei penontooon…?” Lesbian tidak benar-benar memanfaatkan ruang yang memang khusus ditujukan untuk lesbian.Ini menunjukkan bahwasanya lesbian sendiri belum siap baik secara fisik maupun mental. Peluang ini akhirnya disambar oleh mereka-mereka yang berorientasi pasar. Tetap lesbian tidak akan pernah tampil. Malah, ketika Gerakan Rakyat Yogyakarta Antikekerasan (Gerayak) menyerukan penolakan organisasi yang bertindak dengan kekerasan berkedok agama yang melakukan penyerangan ke Yayasan Lembaga Kajian Islam dan Sosial, yang menyebabkan tujuh peserta diskusi "Allah, Liberty, and Love", mengalami luka parah, adakah bendera lesbian disana? Kalau pun ada kami yakin dan diakui beberapa lesbian, mereka mendompleng bendera Hetero. Itu di dunia nyata. Di dunia maya ada lesbian yang beraninya berteriak-teriak di twitter bahwa, “Indonesia, Negara Intoleran”, Buku lawan Buku dll. Padahal, sebagian lesbian-lesbian yang berteriak ini sudah menikmati royalty atas beberapa kumcer dan novel bertema lesbian. Ironis bukan?
Kemudian kami membayangkan, jika pencapaian kebebasan tertinggi yang diharapkan sampai pada legalitas pernikahan--bukankah ini sesuatu yang utopis? Sama halnya dengan mengharapkan Indonesia bebas korupsi. Karena sejauh ini, perjuangan LGBT di Indonesia masihlah jauh dari memadai untuk menyentuh ranah politik yang memegang kuasa atas legal dan ilegal, serta tidak jarang, benar dan salah.
Meski sesungguhnya, ketiga hal yang diagung-agungkan tersebut juga tidak sepenuhnya terpahami dengan baik. Karena memang, kalau hal-hal tersebut dipahami dengan baik, maka kemungkinan mereka yang bekerja untuk pemerintah bisa jadi pengangguran. Selain itu, sudah jadi rahasia umum, kalau tradisi itu selalu benar dan menjadi kritis di negara ini bisa berarti penjara atau setidaknya, jadi buronan politik. Jangan sampai ke-lesbian-an kita dimanfaatkan demi kepentingan segelintir lesbian atau komunitas lesbian, kita menjadi martil.
Maka, daripada memaksakan diri untuk meraih hak pernikahan, memanfaatkan waktu dan tenaga yang ada untuk membangun kekuatan adalah pilihan yang lebih bijaksana. Toh, mengkritik pemerintah atau menghujat ormas-ormas anarkis, tidak ada bedanya dengan bicara pada kambing congek. Lalu apa yang dapat dilakukan lesbian dengan kebebasan sebagai WNI yang didapatnya sesuai undang-undang?
Pergunakanlah kesempatan-kesempatan itu sebaik mungkin, yang salah satunya kesempatan untuk mendapatkan pendidikan. Ambillah kesempatan untuk bersekolah setinggi mungkin. Jika memang perjuangan dunia LGBT sudah menjadi misi dalam hidup, manfaatkanlah pendidikan tersebut untuk mempelajari benar perkara LGBT beserta musuh-musuhnya. Karena jika LGBT tidak melek terhadap apa yang mereka sedang dan akan hadapi, maka perjuangannya pun tidak akan pernah terarah.
Menghujat tidak akan pernah menjadi solusi tepat sasaran. Membangun kekuatan yang solid akan lebih berguna. Karena sepertinya, dunia LGBT di Indonesia perlu menilik ulang kekuatan fondasinya. Untuk itu, sikap-sikap sentimentil dan romantik perlu mulai dikurangi. Menjadi minoritas tidak akan pernah menjadi mudah, tapi berjuang tidak akan pernah menjadi sebuah kemustahilan.
Melalui tulisan ini, kami mengajak sista-sista lesbian untuk melihat kebebasan dari sudut pandang lain. Ketika liberalisme terlalu ideologis untuk diperbincangkan sementara zaman ini menuntut hal-hal yang lebih praksis. Jadilah lawan yang cantik bagi mereka yang mengibarkan bendera perang.
0 komentar:
Posting Komentar